Arta Sedana Masih Pakai Nama Hardys

20-11-2017 09:18:03

Setelah dipailitkan, saham PT Hardys Retailindo dibeli oleh PT Arta Sedana Retailindo.

Proses akuisisi ini terjadi setelah pemilik PT Hardys Retailindo, I Gede Agus Hardiawan, tak mampu bayar utang di Bank Muamalat.

 

“Pada salah satu bank kami tidak mampu bayar, kemudian bank tersebut sesuai peraturan meminta kami menyerahkan aset dan jaminan secara sukarela. Kami macet di Bank Muamalat, maka 13 outlet kami diambil oleh Bank Muamalat ini. Kemudian bank menjual ke PT Arta Sedana ini,” ujar Gede Hardi, Minggu (19/11/2017).

 

Dari 18 toko yang dimiliki Gede Hardi, 13 toko diakusisi oleh Arta Sedana. Semua toko yang diakusisi berada di Bali.

Adapun lima outlet Hardys masih menjadi milik Gede Hardi, namun semuanya telah dikuasai kurator.

"Saya satu rupiah pun tidak boleh mengambil uang dan harus melapor,” tegasnya.

Ia pun berharap gajinya setelah Hardys pailit bisa disetujui oleh majelis hakim.

Sementara President Director PT Arta Sedana Retailindo, Agoes P. Adhie, membantah akuisisi karena Hardys pailit.

 

“Kami tegaskan, kami telah akuisisi sejak setahun yang lalu, ya sekitar Desember 2016,” katanya saat dihubungi Tribun Bali, Minggu (19/11/2017).

Karenanya ia menampik ihwal kabar Arta Sedana mengambil saham Hardys karena pailit.

“Kemudian kami juga ingin meluruskan, yang pailit adalah PT Hardys Retailindo dan holdingsnya. Tetapi ritel Hardys tidak pailit, karena sudah kami (PT Arta Sedana Retailindo) akuisisi,” jelasnya.

 

Yang menarik, meski sudah diakuisisi, Arta Sedana masih menggunakan Hardys.

Hal ini mengingat brand-nya sangat melekat di masyarakat.

“Mengenai penggantian nama, kami tidak terburu-buru. Semuanya masih dalam pembahasan yang mendalam, tidak serta merta begitu saja diganti,” katanya.

Dari 13 outlet yang diakuisisi, satu toko berlokasi di Amlapura, Karangasem.

Namun sementara ditutup sejak kenaikan status Awas Gunung Agung beberapa waktu lalu.

Pihak Sedana Arta pun belum memikirkan ekspansi bisnis.

“Kami ingin menjaga kepercayaan konsumen, kami tidak ingin buru-buru tambah toko,” tegasnya.

Dari 13 toko ini ada sekitar 1.100 karyawan di Hardyssebelumnya, yang tetap bekerja setelah akuisisi.

Pihaknya pun memastikan tidak ada PHK, karena pihaknya tidak termasuk dalam lingkaran pailit tersebut.

“Kami beda PT, dan kami jalan terus melayani konsumen. Bahkan kami sedang membahas dan memikirkan ihwal pelebaran ke jejaring online. Karena memberikan kepraktisan kepada konsumen. Apalagi letak toko di banyak lokasi, karena memang dunia online lagi marak tentu harus bisa diimbangi,” katanya.

 

Komisaris Utama PT Arta Sedana Retailindo, Putu Gede Sedana, juga menegaskan Hardys masih ada dan berjalan di 13 titik lokasi di Bali.

“Terkait isu pailitnya kami tidak ada kaitan. Memang kami yang akusisi, kami beli dari Bank Muamalat,” tegasnya.

Pihaknya pun berencana mengundang media dan memberikan informasi ihwal ini kepada masyarakat, agar tidak terjadi kesimpang-siuran berita dan menyebabkan kebingungan publik. (*)

Sumber: Bali-TribunNews